Tentang Yayasan

Latar Belakang

Menurut Sensus Penduduk 2010, lebih dari 3,5 juta anak-anak yang berusia antara 7–15 tahun tidak bersekolah, di mana jumlah tersebut termasuk 1,4 juta anak-anak usia SD dan 2,1 juta anak-anak usia SMP. Mayoritas anak-anak yang tidak bersekolah ini berhenti sekolah pada periode transisi dari Sekolah Dasar (SD) ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan dari SMP ke Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dikelola oleh Sekretariat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TNP2K mengidentifikasi lebih dari 800.000 anak-anak (437.000 anak laki-laki dan 378.000 anak perempuan) berusia 7 sampai 12 tahun dari 40 persen penduduk dengan tingkat sosial ekonomi terendah, tidak pernah bersekolah. Anak-anak dengan pendidikan kurang dari empat tahun berisiko menjadi orang dewasa yang buta aksara secara fungsional, dan dengan demikian berisiko tinggi hidup dalam kemiskinan (Newhouse dan Suryadarma, 2011; RESULTS International, 2012)

Tiap-tiap Menit, Empat Anak Putus Sekolah

Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report yg dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan peringkat indeks pembangunan rendah. Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negeri dalam Education Development Index. Sementara, laporan Departeman Pendidikan & Kebudayaan, tiap-tiap menit ada empat anak yang putus sekolah.
Tidak sedikit hal yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Tapi perihal paling umum yang dijumpai merupakan tingginya anggaran pendidikan yang menciptakan peserta didik tak akan menyambung pendidikan basic.
Data pendidikan tahun 2010 menyatakan 1,3 juta anak umur 7-15 tahun terancam putus sekolah.

Data ILO tahun 2004 menyatakan bahwa 92,8% anak jalanan terlibat dalam perdagangan narkoba.

Jumlah anak putus sekolah di SD setiap tahun rata-rata 600.000 – 700.000 anak. Sementara mereka yang tidak menyelesaikan sekolahnya di SMP sekitar 150.000 – 200.000 anak. Sebanyak 80% anak putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Meski sudah ada program sekolah gratis yang kurang begitu berjalan karena masih kekurangan guru, belum lagi anak-anak berjalan sendiri tanpa bimbingan belajar. Biro Statistik (BPS) melaporkan bahwa siswa SD kelas 1 – 3 yang terpaksa drop-out setiap tahun mencapai 334.000 siswa, yang berhasil lulus SD tapi tidak melanjutkan ke SMP dan putus sekolah di SMP sebanyak 759.054 anak.

Di Indonesia masih terdapat sekitar 19 juta (73%) anak usia 0-6 tahun yang belum menerima layanan pendidikan.

Pendidikan adalah senjata paling mematikan, karena dengan itu Anda dapat mengubah dunia (Nelson Mandela)

Kecerdasan dan karakter adalah tujuan sejati pendidikan. (Martin Luther King Jr.)

 

Comments are closed.